Thursday, August 21, 2008

Merdeka!

Syukur untuk setiap rencanamu dan rancanganmu yang mulia
Dalam satu kubu kami bersatu menjadi duta kerajaanmu
Kuucapkan berkat atas Indonesia, biar kemuliaan Tuhan akan nyata

Bagi bangsa ini, kami berdiri dan membawa doa kami kepadamu
Sesuatu yang besar pasti terjadi dan mengubahkan negeri kami

Hanya namamu Tuhan, ditinggikan atas seluruh bumi
Kami tahu hatimu ada di bangsa ini

---------------------------------------------

Tiga hari yang lalu gue bolos upacara tujuh belasan. Tidak usahlah dibahas kenapa gue bolos, tapi inilah pertama kalinya gue bolos upacara tujuh belasan sejak pertama kali gue bergabung dengan kantor gue. Walaupun senang juga ngga pegel-pegel karena berdiri tegak, tapi rasanya ada yang kurang dengan ngga ikut upacara gaya militer itu. Penasaran deh gue, di negara lain ada ngga sih upacara-upacaraan memperingati ulang taon kemerdekaan? Dan gue jadi berpikir lagi: apa itu kemerdekaan? 

Dulu banget, pas SMP, pernah gue jadi begitu emosional pas lagi upacara tujuh belasan, sampe nyaris nangis segala. Entah ya, kok gue waktu itu begitu menghayati itu upacara dan merasa begitu bersyukur dengan kehidupan gue: bisa sekolah, bisa haha hihi, bisa ke gereja dengan tenang, bisa punya mimpi... Gue ngga bisa membayangkan kalau gue dibesarkan lagi jaman belum merdeka; pasti nelangsa banget ya... Dan besar banget jasa orang-orang itu, yang mungkin di jaman merdeka ini hidupnya ngga beda-beda amat dengan jaman dijajah walopun pas jaman dijajah sudah berkorban segala sesuatu. Dan gue jadi berpikir lagi: apa itu kemerdekaan?

Pas jaman gue kuliah, pas jaman reformasi di mana teman-teman seangkatan gue malah ikut segala ke senayan dan menggulingkan rezim orde baru. Gue yang ngga nyali dan ngga bakal dikasih restu ikut demo hard core, cuma nyali ikut demo kecil-kecilan di depan kampus, yang ngga pake digebuk-gebukin polisi (digebukin juga sih, tapi yang di garis depan; gue kan di baris nyaris belakang, bisa cepet kabur... chicken banget ya...). Gue yang nyalinya ngga gede tapi tetep cinta negri gue jadinya bergabung dengan tim doa di pelayanan gue. Gue masih inget, doa pagi tiap sabtu jam 6 pagi, gue yang ngga punya kuliah di hari sabtu dan tinggal ajubile jauhnya dari kampus untuk ukuran kota kecil sekelas bandung, bela-belain bangun pagi, naik angkot sambil terkantuk-kantuk karena mau persekutuan doa: buat negri gue tercinta. Setidaknya, itu pengorbanan yang bisa gue berikan: lutut dan air mata gue buat tanah air yang kacrut tapi bener-bener gue sayang. Gue juga masih ingat doa-doa kami saat itu: pulihkan negri kami, selamatkan bangsa kami, jangan biarkan darah tercurah lagi di tanah kami: dari sabang sampai merauke, jangan biarkan negri kami terpecah lagi, tetap sayangi bangsa kami... Dan gue jadi berpikir lagi: apa itu kemerdekaan? 

Sekarang, jaman idealis-idealisnya gue seperti mimpi. Gue berkutat dengan hidup yang ternyata memang ngga mungkin jadi mudah, gue bergulat dengan deru debu dan (ternyata) berat sekali mencari sesuap nasi dan segenggam berlian, gue sibuk bertanya apakah masih realistis untuk ingin menjadi pelita yang bersinar di atas bukit dan garam yang membuat asin negri gue. Dan gue jadi berpikir lagi: apa itu kemerdekaan?

Proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah 63 tahun berlalu. Para pejuang, pemimpin, pemikir, sudah mengantarkan gue ke pintu gerbang kemerdekaan. Pintu gerbang. Gue mau gue dan saudara-saudara sebangsa gue ngga cuma sampai di pintu gerbang, tapi masuk ke dalam, menjadi tuan rumah, menjamu tamu-tamu dan memperkenalkan: inilah kota kemerdekaan.  

Gue ngga punya ide-ide cemerlang, ngga bisa melakukan hal-hal yang spektakuler, ngga punya pengaruh di mana pun, hanya gue yang biasa-biasa saja. Gue cuma punya harapan, tidak pernah berhenti berharap, selalu berjalan menuju harapan gue: Indonesia bisa jadi Indonesia yang lebih baik, Indonesia akan jadi Indonesia yang lebih baik, Indonesia pasti jadi Indonesia yang lebih baik... karena Tuhan sayang Indonesia, karena gue sayang Indonesia, dan karena banyak orang sayang Indonesia.

Untuk Indonesia yang lebih baik!

Monday, July 21, 2008

Second Quarter Review

Sudah nyaris bulan kedelapan di tahun ini, sudah lewat pertengahan tahun ini. Rasanya terlalu cepat waktu berlalu dan aku belum ke mana-mana (maksudku, belum mencapai apapun, kalau ke mana-mana sih sudah ke mana-mana melulu). Sudah saatnya juga menyegarkan ingatan tentang tahun ini walaupun sepertinya tidak cukup banyak yang layak diingat…

Januari:
Tahun baru, tahun baru: harapan baru, semangat baru, tapi tetap dengan mimpi-mimpi lama. Sepanjang bulan tidak dijadwalkan buat audit… Nggak laku, nggak laku… Yah, sebenarnya bukan karena nggak laku juga sih tapi karena aku ditugaskan mempersiapkan diri mengajar Statistika di direktorat. Hiks, sedihnya luar biasa mengingat dari jaman purbakala aku masih SMU sampai terakhir kali aku punya ingatan, aku benci setengah hidup pada makhluk bernama Statistika.
Lalu, patah hati karena perjalanan ke Nepal terancam batal, dan langsung balas dendam bikin perjalanan mendadak ke Batam-Bintan-Singapore dengan Rita, Shinta, dan Dian. Lalu... lalu... 16 Januari 2008, e-mail yang ditunggu-tunggu membawa kabar bagus: Congratulations! You passed the 2007 Financial Risk Manager Examination. Senang, girang, terharu, penuh syukur, tambah meluap dengan pengharapan: tahun ini akan lebih baik, tahun ini akan lebih berwarna, tahun ini akan lebih mudah mensyukuri hidupku yang selalu begini-begini saja. Aku traktir teman-temanku di Penang Bistro (padahal kan aku luar biasa pelit, ulang tahun juga nggak pernah traktir teman-teman: jangan coba memaksa, aku tidak terlalu girang dengan bertambahnya usiaku:D)...

Februari:
Akhirnya... toh berlalu juga, ajar-mengajar Statistika yang bikin aku dag dig dug itu. Lumayan sukses kalau menurutku (dengan kebencian pada Statistika dan kekurangmampuan mengajar). Sedikit banyak kecewa (tapi lebih banyak kecewanya) karena rencana jalan-jalan ke Balikpapan batal karena teman seperjalananku sakit. Hiks. Dua tiket Jakarta-Balikpapan kuberikan gratis pada adikku dan temannya. Dan aku berjanji, untuk perjalanan selanjutnya, akan selalu kurancang sedemikian hingga bila teman seperjalananku membatalkan keberangkatan maka aku akan tetap bisa menikmati perjalanan seorang diri...

Maret:
Tugas audit pertama di tahun ini. Senang... karena timnya menyenangkan, orang-orang yang sudah kukenal sebelumnya (yang semoga juga menyukaiku sebesar rasa sukaku pada mereka). Perjalanan ke Bromo batal juga, kali ini aku yang membatalkan. Tapi perjalanan ke Padang dan Bukit Tinggi sukses besar!
Pertama kali bepergian dengan Fenti, dan aku tidak kapok:D. Makan-makan dan makan-makan... indahnya dunia...

April:
Tugas audit kedua di tahun ini.
Hanya empat orang anggota timnya, sepi... Aku mulai malas dan tambah malas belajar, mulai gelisah dan tambah gelisah. Masih ditambah rencana audit ketiga yang diubah oleh entah siapa dan jadi bertabrakan dengan jadwal tiketku ke Nepal. Perjalanan impianku, akankah gagal??? Aku yang tak pernah memelas, berniat berpura-pura memelas, tapi akhirnya memang benar-benar memelas, memohon dicabut dari tim audit ketigaku. Bulan ini juga pertama kali ikut sertifikasi perbankan. Tiba-tiba jadi senang belajar lagi, banyak hal membosankan jadi menarik kalau dilihat dari sisi yang berbeda...

Mei:
Ulang tahunku. Tambah tua, tambah sering ditanya: kapan kawin? Duh, tanya-tanya melulu, padahal kan kalau aku akan kawin pasti bikin pengumuman, kalau perlu malah aku pasang spanduk di air mancur bundaran HI. Capek juga menghadapi orang-orang dan menjelaskan kalau aku tidak akan lupa kawin, hanya belum akan kawin.
Lalu, lalu, adik tertuaku akhirnya mendapat pekerjaan baru! Terpujilah Tuhan atas segala sesuatu yang pernah ada dan yang akan pernah ada. Haleluya!
Dan akhirnya, saudara-saudara terkasih, aku sampai di Nepal. Terima kasih semuanya, satu mimpiku sudah tercapai...

Juni:
Rencana audit keempat diundur sampai waktu yang belum ditentukan. Jadi pengangguran lagi bulan ini. Tapi masih punya stok kegirangan karena biaya ujian FRM-ku diganti kantor. Uhuuuuyyyy... karena tidak pernah benar-benar berharap biaya ujianku akan diganti, ini seperti menang undian. Lalu... untuk pertama kalinya aku ikut jalan-jalan dengan tour organizer: FunTrip2Volcano ke Batu Karas dan Cijulang serta Explore Indonesia ke Sempu dan Bromo. Senang juga, ada yang urus ini itu dan aku tinggal bayar dan terima beres. Senang juga, punya teman-teman baru. Tapi aku tetap punya kepuasan yang berbeda pada jalan-jalan yang aku urus sendiri...

Juli:
Panik, panik, akses online buku GRE-ku yang 6 bulan itu nyaris expired. Ke mana saja selama ini? Fuih, padahal audit keempat dimulai bulan ini. Panik, panik, aku belum juga mulai belajar pemrograman C++. Panik, panik, blog jalan-jalanku mandek karena sudah terlalu banyak cerita yang aku tak ingat. Panik, panik, karena aku masih sebodoh dua tahun lalu ketika aku pertama kali menyadari nasibku sebagai auditor. Panik, panik, mengapa otakku berkarat begini? Mogok dan rusak parah, apakah karena tak pernah dipakai? Panik, panik, tahun ini sudah berlalu lebih dari setengahnya dan aku masih berputar-putar di titik yang sama. Panik, panik, karena yang kuingat sejak awal tahun ini hanya berputar di kantor dan jalan-jalan; ke mana kehidupanku yang lain?

Panik, aku sungguh teramat panik.

Tuesday, July 08, 2008

Habis

Kadang-kadang, hanya kadang-kadang, aku kehabisan alasan untuk bertahan. Aku mencari-cari alasan, aku membuat-buat alasan, aku mengingat-ingat alasan yang pernah ada, aku menghitung-hitung alasan yang pernah ada dan semoga akan ada. Tapi sama saja, yang kadang-kadang itu tetap terjadi: aku kehabisan alasan untuk bertahan.

Kadang-kadang, hanya kadang-kadang, aku kehabisan pendorong untuk berjuang. Aku membujuk diriku, aku merayu diriku, aku memaksa diriku, aku menghardik diriku. Tapi sama saja, yang kadang-kadang itu tetap terjadi: aku kehabisan pendorong untuk berjuang.

Kadang-kadang, hanya kadang-kadang, aku kehabisan stok kebahagiaan. Aku mengisi pundi-pundiku dengan teman-teman, dengan keluarga, dengan petualangan, dengan pekerjaan, dengan kesenangan, dengan cinta, dengan doa. Tapi sama saja, yang kadang-kadang itu tetap terjadi: aku kehabisan stok kebahagiaan.

Kadang-kadang, hanya kadang-kadang, aku kehabisan harapan untuk menggapai mimpi-mimpiku. Aku mencoba bertahan, aku terus berjuang, aku menggenjot pertahanan dan perjuanganku dengan remah-remah kebahagiaan yang tersisa. Tapi sama saja, yang kadang-kadang itu tetap terjadiL aku kehabisan harapan untuk menggapai mimpi-mimpiku.

Kadang-kadang, hanya kadang-kadang, semuanya habis. Hampir semuanya. Yang tersisa hanya hatiku dan sejejak cinta pada Bapa Surgawiku.

Thursday, July 03, 2008

Rumah

Beberapa minggu lalu, untuk pertama kalinya, aku berhenti di kawasan Porong. Di kawasan yang sekarang terkenal dengan "wisata lumpur"-nya. Aku dan teman-teman naik ke atas tanggul dan teriris miris melihat lautan lumpur di sana. Bukan cuma lautan lumpur, sebenarnya, ada batang pohon yang mati dan mengering, ada puncak atap rumah yang sepi sendiri tanpa penghuninya.

Dan aku teringat rumahku, atau bukan rumahku tapi rumah orang tuaku. Itulah satu-satunya tempat yang kusebut rumah sampai hari ini, tempat aku menenangkan hati ketika pekerjaan membuatku nyaris gila, tempat aku mencari keteduhan ketika hidup jadi terlalu panas membakar hatiku, tempat aku mendapatkan kehangatan ketika dunia terlalu dingin menghembus asa, tempat aku berkumpul dan tertawa dan menangis dan mengamuk dan merasakan segala rasa bersama orang-orang yang kucintai. Itulah rumahku. Sebentuk bangunan yang aku tahu akan selalu berada di sana, walaupun beratus kilometer dari tempatku tinggal mendulang rupiah. Setidaknya, aku selalu percaya, sebentuk bangunan itu akan selalu berada di sana menungguku pulang.

Tak bisa kubayangkan jika ketika aku pulang yang kudapati hanyalah atap rumahku yang sepi sendiri, megap-megap di antara lautan lumpur coklat buruk berbau busuk. Tak bisa kubayangkan bila aku dan orang-orang yang kucintai dicabut paksa dari akar ini, rumah yang jadi saksi air mata dan canda tawa. Tak bisa kubayangkan bila aku harus kehilangan kenangan dan masa laluku hanya karena aku kecil dan tak berdaya dan tak cukup punya cara untuk melawan lumpur yang terus mengalir dan orang-orang yang hanya tahu menilai segala sesuatu dengan uang. Tak bisa kubayangkan bila aku ada di antara bapak dan ibu korban lumpur di Sidoarjo.

Tak ada yang kebetulan dalam hidup. Tapi bila kehilangan dan rasa sakit harus terjadi, biarlah itu untuk sesuatu yang lebih baik.

-God loves Indonesia, of this I'm sure...-

Wednesday, July 02, 2008

Lain Dulu, Lain Sekarang

Dulu: gue sedih kalau nggak punya kerjaan, nggak dibagi kerjaan
Sekarang: masa bodo kalau gue nggak punya kerjaan: gue bikin kerjaan gue sendiri

Dulu: gue nggak suka jadi orang paling oon
Sekarang: oon juga nggak apa-apa deh, asal hati gue tetap cerah ceria

Dulu: berasa malang kalau di tengah keramaian nggak kenal siapa-siapa
Sekarang: kenal nggak kenal, sendiri atau rame-rame, hajar aja bleeeh

Dulu: kalo temen gue batalin janji tiba-tiba, gue merengut sebel
Sekarang: batalin aja sesuka hati lo, gue tetep jalanin rencana dengan atau tanpa lo

Dulu: sibuk telpon sana sini cari temen nonton show ini itu
Sekarang: imelin aja orang-orang tentang show ini itu, kalo ngga ada yang reply, nonton ndiri asik-asik aja

Dulu: ribet banget kalo dikomentarin rambut dan muka gue yang berantakan
Sekarang: emang gue pikirin kalo rambut dan muka gue berantakan di mata situ? gue kan ngga naksir situ, kqkqkqkq

Dulu: berat banget mikirin masa depan
Sekarang: masa depan, masa sekarang, masa lalu, masa-masa itu sudah ada di tangan yang tepat...

Wednesday, June 25, 2008

Ke Mana Lagi?

"Mau ke mana, Ndang?" tanya temanku ketika minggu lalu aku sudah siap dengan ransel dan sepatu trekking ketika jam pulang kantor.

"Bromo," jawabku enteng (yah, sebenarnya juga ke Malang, lalu Pulau Sempu, dan mungkin ke tempat lainnya kalau masih ada waktu).

"Yaaaah, masih dalam negri aja lu...?" sambungnya lagi, agak menohok.

"Loooh... Indonesia itu kan tempat paling indah di dunia!" masih kusambung juga omongan tidak penting itu.

Dan aku jadi berpikir, memangnya kenapa kalau aku mau putar-putar mengitari negeriku yang cantik ini? Aneh ya, bagaimana orang-orang jadi begitu "luar negri minded": liburan harus ke luar negri, belanja harus ke luar negri, berobat harus ke luar negri, sekolah harus ke luar negri, malam tahun baru harus di luar negri, lama-lama akhir pekan juga ke luar negri.. Hehehe.

Aku tidak anti luar negri. Aku masih punya cita-cita merasakan romansa Paris, menyentuh keajaiban St. Petersburg, melanjutkan sekolah ke California. Tapi aku juga luar biasa tersentuh dengan kecantikan negriku sendiri: pantai, laut, sungai, danau, gunung, hutan, sabana, padang pasir, air terjun, sampai budayanya yang banyak banget dan fuih... selalu bikin aku mengucap syukur berjuta-juta kali karena terlahir di tengah-tengah kemolekan ciptaan Tuhan.

Apakah gaya hidup metropolitan yang seperti itu? Apa-apa berorientasi pada luar negri? Seperti rekan temanku yang bilang, "Ngapain jalan-jalan ke Nepal? Nepal kan negara miskin!"

Dan aku tertawa sampai tersedak. Negri ini juga miskin, Bung! Jadi mari jadikan negri ini kaya, paling tidak kaya dengan kebanggaan rakyatnya sendiri...

Tuesday, June 24, 2008

Lelah

you might never know what's burning here
all the words unspoken
all the feelings unexpressed
all the dreams unreached
all the tears unseen

you might never know what it means
no single day without you
or your voice
or your words
or your stories

you might never know, and it's better kept that way

-lelah...-

Pemilik NPWP Bebas Bea Fiskal: Yipppiiiii

Senin, 23 Juni 2008 | 01:06 WIB

Jakarta, Kompas - Kabar gembira bagi pemilik nomor pokok wajib pajak atau NPWP. Mulai tahun 2009, semua calon penumpang penerbangan atau pelayaran menuju ke luar negeri akan dibebaskan dari kewajiban membayar biaya fiskal jika menunjukkan bukti kepemilikan NPWP.

Kebijakan ini diterapkan karena pemerintah dan DPR ingin mendorong orang untuk memiliki NPWP sehingga jumlah pembayar pajak di dalam negeri akan semakin banyak.

Hal itu merupakan keputusan Rapat Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Pajak Penghasilan (RUU PPh) yang terdiri atas wakil dari 10 fraksi di DPR serta pemerintah.

Keputusan tersebut diungkapkan Ketua Panitia Khusus Paket RUU Perpajakan Melchias Markus Mekeng di Jakarta, Minggu (22/6).

Saat ini semua penumpang pesawat terbang atau pelayaran internasional yang berangkat dari bandar udara atau pelabuhan internasional di Indonesia wajib membayar biaya fiskal Rp 1 juta per orang. Ini merupakan salah satu sumber penerimaan negara bukan pajak bagi pemerintah.

Dengan adanya keputusan Panitia Kerja RUU PPh itu, semua penumpang yang berusia 21 tahun ke atas wajib membayar fiskal kecuali yang bersangkutan bisa menunjukkan NPWP.

Jika ada anak atau istri yang hendak bepergian ke luar negeri, mereka bisa bebas fiskal asal menunjukkan NPWP ayah atau suami. Hal itu dimungkinkan karena Indonesia menganut prinsip satu NPWP dalam satu keluarga.

"Namun, jika penumpang itu sudah berusia 21 tahun ke atas dan tidak memiliki NPWP, dia wajib membayar fiskal yang tarifnya ditetapkan menyusul oleh pemerintah," ujar Melchias.

Tingkatkan daya tarik

Menurut Melchias, kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Indonesia di mata orang asing. Selama ini hanya Indonesia di negara kawasan yang menerapkan kewajiban fiskal, sementara negara-negara tetangga Indonesia, terutama Malaysia dan Singapura, telah membebaskan biaya fiskal sejak lama.

Saat ini jumlah pemilik NPWP efektif atau yang benar-benar memiliki identitas jelas mencapai 6 juta orang. Namun, jumlah wajib pajak badan yang benar-benar membayar pajak baru sebanyak 1,3 juta, sedangkan wajib pajak orang pribadi yang membayar pajak mencapai 1,1 juta orang.

Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution mengatakan, pembebasan bea fiskal dari pemilik NPWP bisa mendorong efektivitas program ekstensifikasi pajak.

Direktur Penyuluhan Pajak Joko Slamet Suryoputro menambahkan, dulu fiskal diberlakukan untuk membatasi orang ke luar negeri. (OIN)

Monday, June 23, 2008

Forever; Yes, Forever!

Into your hands I commit again with all I am for you, Lord.
You hold my world in the palm of your hands and I am yours forever.

Jesus, I believe in you.
Jesus, I belong to you.
You're the reason that I live, the reason that I sing forever.

I'll walk with you wherever you go; through tears and joy, I'll trust in you.
And I will live in all of your ways and your promises forever.

I will worship you, I will worship you, forever

-With All I Am, Hillsongs United-

When forever means forever, let my love to you be eternal...

Thursday, June 19, 2008

Bintang

Aku ingin jadi bintang, selalu ingin jadi bintang. Tak perlu terlihat besar, tak perlu menutupi apa pun atau siapa pun, tapi cukup menerangi sepetak gelap. Tak perlu dikenal oleh semesta, tapi jagad raya merasakan cahayaku, mengenali kerlipku.

Aku ingin jadi bintang, selalu ingin jadi bintang. Aku ingin bersinar bersama bintang yang lain, bukan menutupi cahaya mereka, bukan juga ditutupi oleh cahaya mereka.

Aku ingin jadi bintang, hanya jadi bintang, walaupun bintang terkecil dari yang pernah ada dan yang akan pernah ada.

Wednesday, June 18, 2008

I don't have that angelic voice I wish I had but still I will sing...

Lord, you seem so far away, a million miles or more it feels today.
And though I haven't lost my faith, I must confess right now that it's hard for me to pray.
But I don't know what to say and I don't know where to start, but as you give the grace with all that's in my heart I will sing, I will praise, even in my darkest hour, through the sorrow and the pain.
I will sing, I will praise, lift my hands to honor you because your word is true.
I will sing.

Lord, it's hard for me to see all the thoughts and plans you have for me.
But I will put my trust in you knowing that you died to set me free.
But I don't know what to say and I don't know where to start, but as you give the grace with all that's in my heart I will sing, I will praise, even in my darkest hour, through the sorrow and the pain.
I will sing, I will praise, lift my hands to honor you because your word is true.
I will sing.

-I will Sing, Don Moen-

when a song tells it all...

Friday, June 13, 2008

I Don't Kiss Friends..

But I do kiss boyfriends.

Pusing gue sama pertanyaan-pertanyaan ngga jelas yang bikin otak gue tambah ngga jelas. Yah, mungkin pertanyaan-pertanyaannya jelas, tapi kejelasannya bikin gue ngga jelas.

Tulalit deh gue.

Pusing

Pusing

Pusing

Gue mau makan aja yang banyak.

Tuesday, June 10, 2008

Cerita dari Atap Dunia (Bagian Terakhir: Wall of Fame)

Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada (lagi noraaaaak):

  1. Bapa tersayang yang sudah ngasih kesehatan, kekuatan, keamanan, dan uang yang cukup:D
  2. Bapak dan Mama yang pengertiaaaaaaaaaaan banget, ngga ribet nanya-nanya kenapa putri tercinta pengennya selalu ke tempat yang ngga jelas
  3. Ibu dan Bapak bos yang sudah ngasih cuti (niat gue mau melas-melas, tapi ternyata dari lubuk hati yang paling dalam emang melas beneran...)
  4. Mbak dan Mas yang berkenan mencopot gue dari tim audit terakhir
  5. Shinta yang udah mau jadi teman perjalanan gue (walopun kita sering ribut-ribut juga yah, Shint, tapi gue pikir-pikir kalo bukan karena elo mau pergi sama gue, ngga bakalan loh gue kejadian kemaren itu berangkat:D)
  6. Kak Vemi, yang udah berbaik hati jadi tempat tumpangan (tidur dan makan!!!) selama dua malam... (Upahmu besar di sorga loh, Kak:D). Anytime Kakak ke Jakarta ato Bandung, gantian gue yang jadi host yaa
  7. Mbak Ully, Mas Budhi, Nesa, dan Ezra, buat semua info dan keramahan dan kamar buat tidur siang dan perkenalan dengan Jyoti (hwakakak) dan kesempatan buat baby sitting (kapan lagi, coba, baby sitting in Kathmandu)
  8. Ibu Phoebe (bener kan yah, nulisnya begini?) dan Pak Sam, buat sarapan bersama dan ngobrol-ngobrolnya di sore-sore habis ujan di hari kami terjebak bandh--truely an inspiration of a christian couple
  9. Abang tukang dayung di Pokhara, yang bikin boating di Fewa lake jadi sulit dilupakan... bow, didayungin sambil disetelin lagu mellow... kapan lagi coba!!
  10. Gitta, yang udah ngajarin gue bahasa Nepal
  11. Mbak yang sepesawat ama kita bolak-balik Singapore -Kathmandu: an inspiring travelller, bikin gue ngiri pengen punya cuti sebanyak dia, temen jalan sebanyak dia, dan yah, duit sebanyak dia tentunya. Hwakakak
  12. Mbak dan Mas di hotel; abang supir taksi di Kathmandu, Pokhara, Singapore, dan Jakarta; tentara yang jagain temple di Bhaktapur dan di Kathmandu; abang supir riksha yang dua kali nglipet gue; ade kecil yang nepu gue beli tas kecil di Patan (gue rela kok ditipu kecil-kecilan, tapi duitnya dipake yang bener yaa); ade-ade kecil teman baru gue di Boudhanath; pelayan ganteng di Koto Restaurant (asli, dia mirip banget ama Charlie, tapi versi bagusan sih.. teuteup..); dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain.
  13. Orang-orang yang ngga bisa gue sebutin satu persatu, tapi bikin perjalanan gue bener-bener memperkaya diri gue. Hidup jalan-jalan!:D

Cerita dari Atap Dunia (Part 8)

  • Pak Sam dan Bu Phoebe nyamperin kita ke hotel: bersepeda beriringan mereka, dari Patan ke Thamel... cieee... romantis bow!
  • Sarapan bareng Pak Sam dan Bu Phoebe di seberangnya Everest Steak House (gue ngga inget namanya, cuma inget bahwa kami liat Everest Steak House masih tutup dan di seberangnya ada tempat sarapan yang sudah buka)
  • Off we go to Tribhuvan International Airport
  • Wah, cara minum dari dispensernya kaya gitu yah: ada gayung buat tempat minum rame-rame
  • Selamat tinggal, Nepal... I'll be back!!!
Meninggalkan sesuatu kadang-kadang menyenangkan, kadang-kadang menyedihkan, kadang-kadang keduanya. Buat gue, meninggalkan Nepal adalah keduanya. Sedih, karena ada banyak tempat, ada banyak peristiwa, ada banyak orang yang belum sempat gue kenal, belum sempat gue temui. Sedih, karena gue belum puas mereguk semuanya, belum sempat menjejakkan telapak kaki mungil gue di punggung gunung-gunungnya. Sedih, karena gue masih ingin bersenang-senang dan melupakan pekerjaan gue.

Tapi senang juga. Senang, karena gue mau meninggalkan semua kekacrutan yang ngga gue mengerti (dan ngga pernah gue temui di negeri gue). Senang, karena akan terbangun dari mimpi yang melenakan dan kembali pada realitas hidup gue. Senang, karena akan bertemu kembali dengan orang-orang yang paling gue sayang. Senang, karena gue sudah siap merencanakan perjalanan selanjutnya.

Dan ternyata, yang paling menyenangkan adalah bahwa gue tau kapan gue akan meninggalkan Nepal. Alangkah menyedihkannya kalau gue ngga tau kapan gue harus meninggalkan sesuatu dan tiba-tiba, wuusss, dalam sekejap harus terjadi perpisahan. Setidaknya, kalau gue tau waktunya, gue akan lebih siap.

Atau malah lebih ngga siap?

Ini Juga Bikin Meleleh

Cerita dari Atap Dunia (Part 7)

  • Batal ke Sarangkot. Hujan!!! Again, kenapa hujannya mesti pas gue di Pokhara...
  • Ke World Peace Pagoda, pake acara trekking 15 menitan (halah, ini mah bukan trekking yah)
  • Biasa ngupi di mana? Starbucks, Coffee Bean, Pattiserie Francais, Kopi Phoenam? Gue dong... ngupi di warung sambil... mmmm..... bengong liatin deretan Himalaya yang jadi latar belakangnya Fewa Lake... Hati gue kaya mau meleleh...
  • Sarapan menjelang makan siang di Hungry Eye Restaurant & Bar
  • Rintik-rintik, tapi gue mau boating lagi (ngapain lagi, coba?)
  • Belanja lagi: tempelan kulkas, kartu pos, dan teh
  • Terbang balik ke Kathmandu: gila, pesawatnya sama gede dengan yang buat mountain flight!
  • Acara pamit-pamitan dan ambil titipan barang: ke rumah Kak Vemi trus ke rumah Mas Budhi & Mbak Ully
  • Makan malem di Koto Restaurant: lagi, yang enak bukan cuma makanannya, tapi juga mas pelayannya... (enak diliat getooo)

Ada banyak cara untuk meleleh. Buat gue, gue pasti meleleh kalau menatap keindahan. Gue meleleh kalau menatap tebing tinggi berbatu-batu Lembah Harau yang kokoh menaungi hijaunya daun-daun pephonan. Gue meleleh kalau melihat eloknya danau maninjau di tengah kabut dari kelok ke  30-an-nya kelok 44. Gue meleleh kalau menatap hamparan pasir putih yang cantik luar biasa yang menjorok di tengah lautan di antara pulau-pulau di kepulauan karimun jawa. Gue meleleh ketika sambil mengambang di sungai cijulang gue menyedot kecantikan open cave yang mengungkunginya. Gue meleleh oleh kecantikan negeri gue.

Gue juga meleleh bersama hangatnya secangkir kopi di cangkir gue ketika gue menghirupnya sambil memeluk kecantikan Annapurna yang jadi latar belakang Fewa Lake. Gue meleleh ketika waktu seperti berhenti dan gue mencair bersamanya. Gue meleleh ketika menyadari bahwa gue tidak punya kata-kata yang cukup indah, pulasan warna yang cukup sempurna, untaian nada yang cukup merdu, untuk meneriakkan kecantikan yang gue lihat, dengar, dan cecap.

Gue meleleh oleh keagungan Allah gue.

Gue juga meleleh kalau menatap pria ganteng.

Hwakakak.

Monday, June 09, 2008

Pagi-pagi Ngantuk-ngantuk

Jalan-jalan memang menyenangkan. Tapi, kalau baru sampai di rumah jam setengah tiga pagi dan jam delapan pagi sudah sampai di kantor dan mendapati pesan di mailbox kalau jam sepuluh pagi itu juga harus rapat di luar kantor dengan materi yang baru dikirim sejam sebelumnya, rasanya seperti mau gantung diri di pohon toge. Terkantuk-kantuk mencari sarapan seadanya dan espresso double, barulah kepala bisa terangkat sedikit dan mata bisa agak melek.

Mak nyuuuus.... dan di mana Liqudity Management Policy yang mau dirapatkan itu? Ufff... short term memory loss. Dan, dan... mark to market, net open position, profit and loss.... My gosh... otak gue masih nyangkut di sungai cijulang. Semoga rapatnya ngga pake mikir banyak-banyak:(.

Friday, June 06, 2008

Abang yang Dayungin Gue...

Cerita dari Atap Dunia (Part 6)

  • Bangun subuh, jangan sampe ketemu taxi chaina lagi
  • Belum pernah gue bisa begitu seneng karena ketemu taksi.. hwakakak
  • Off we go to Pokhara... naek Golden Travel yang katanya tourist bus tapi di setiap perempatan ngangkut penumpang
  • Naik turun gunung, muter-muter gunung... delapan jam yang menyenangkan
  • Makan siang di jalan (pake voucher); duh, gue ngga ngerti rasa makanannya...
  • Plakatnya bilang: simpa & somdan... hwakakak, nama gue jadi berantakan
  • Nginep di Castle Guest House (managed by a christian family!), hotel murah yang gede, bersih, nyaman, dan kekeluargaan banget
  • Beli sepatu: cihuyyy, sepatu trekking bow! sekarang gue kaya anak gunung beneran
  • Makan siang di Lemon Tree
  • Boating berduaan sama abangnya: dua jam sampe matahari terbenam dan pake acara disetelin musik... romantis bener... hwakakak, kapan lageeee?
  • Makan malem kecil di Busy Bee: cafe banget:(
  • Belanja tas buat Mama dan kaos buat ade-ade gue
Gue sejenak kaget ketika tau bahwa gue dijemput oleh pastor jemaat lokal di Pokhara (janjinya mau dijemput anaknya yang punya hotel). Hyah, gue selalu berada di jemaat yang besar dan gue nyaris ngga kenal sama Pendeta gue (apalagi pendetanya, mana kenal dia siapa gue:D). Seperti bertemu dengan jemaat mula-mula, ya? Gembala dan jemaat jadi keluarga yang saling membantu. Apalagi ketika gue dikenalin: this is our brother... Inilah tempat yang bikin gue mendayu-dayu: sejuk, Bali banget (mengutip komentar temen gue), orangnya ramah-ramah dan tak lagi doyan meludah, dan rasanya tentraaaaam banget didayungin di danaunya. Belum lagi deretan tinggi pegunungan bersalju mirip kapas yang jadi latar belakang danaunya. Fuih...

Nesa Sesaat Sebelum Disenggol Sepeda...