Thursday, December 10, 2009

my prayer

do you know how it feels
to really want something
to walk all the way just to get to a place
to do everything to reach something
just to find that it feels like it's not something made for you?

do you know how it feels
to really want something
and find that every step you take
just bring you further away?

do you know how it feels
to really want something
and all you can do, at the end, just to get on your knee
as always...?

you are all I got
you are my only hope
so stay with me, please
you know it's gonna be hard for me
it's gonna be tearful for me
so cry with me, will you, dear lord?

Monday, November 02, 2009

A Year after We Buried Him

If I could turn back time, I'd spent more time by his side. I wouldn't go travel around the globe but instead travel more to his place, sit by his side and spend hours and hours talking to him, just like the old days. I wouldn't dream that much but instead enjoy those moments more, the moments I looked into his eyes and walked hand in hand with him.

If I could turn back time, I'd listen to him more. I'd treasure the stories of his youth, the history of the family, the journey of his faith... things he's always loved to talk about.

If I could turn back time, I'd say those magic words more often. I'd tell him of how much he means to me, how much I want to always be his little girl, how much I'm proud of him, how much I love him. I'd tell him that he's the best any daughters can have in the whole universe.

But I can't turn back time. All I can do is to cherish the memory and to love the God he's loved so in his life.

Ah, if only he was here. He'd be thrilled to see his oldest son getting married next week. He'd be proud to find out the kind of woman that man of his own has chosen to be a wife. He'd be smiling all day, knowing that the man who bears his name will pass it on to his future children.

Ah, how I sometimes envy those people, those sons and daughters whose fathers are still around. How much I want to tell them how lucky they are... not that I'm not grateful for those colorful years God blessed me with his presence...

I know I can't turn back time nor can I bring him back. But I still wish he was here.

Sunday, October 04, 2009

Aku Menggugat

Aku menggugat Yang Maha Tinggi
untuk mengembalikan mimpi-mimpiku
untuk memulihkan semangat tanpa batasku
untuk membangunkan lagi kepedulianku pada sahabat-sahabatku
untuk membuatku jatuh cinta lagi pada-Nya

Aku menuntut Yang Maha Kasih
untuk menjadikanku puas bahkan dengan yang tak aku miliki
untuk mendinginkan kemarahan yang terlalu sering bergelora
untuk menerbitkan bintang pada malam-malamku yang paling kelam
untuk menari bersamaku walaupun dengan musik yang tak indah di telinga-Nya

Aku memohon pada Yang Maha Besar
untuk membuatku bersinar bagi-Nya
walaupun hanya sebagai bintang yang kecil

-hush, hush, pergilah semua rasa malas...-

Monday, September 28, 2009

My (New) Travel Wish LIst

dari wish list yang gw bikin 2 taon lalu, yang udah berhasil kejalanin adalah:
1. toraja
2. belitung
3. bintan
4. dieng
5. nepal
6. st. petersburg

dan dari wish list yang sama, yang blon bisa gw jalanin adalah:
1. danau matano dan sorowako
2. ujung kulon
3. krakatau
4. cheto
5. mahakam
6. raja ampat
7. paris
8. yerusalem

dari tempat-tempat di wish list tadi yang blon bisa gw jalanin dan ditambah dengan wawasan perjalanan gw yang lumayan bagusan belakangan ini, inilah travel wish list gw yang terbaru:

1. krakatau
2. cheto
3. mahakam
4. flores dan pulo komodo
5. ternate dan tidore
6. kepulauan maluku (semuanya, gw mau semuanya!)
7. raja ampat, lembah baliem, cartensz (ga usah ke puncak, di kakinya aja gw udah puas :D)
8. sampe ke puncak rinjani (aga nyesel juga, kenapa taon lalu cuma sampe pelawangan sembalun... huhuhu)
9. danau sentarum
10. danau toba (hihihi, gw sering banget ngelewatin dano toba kalo pulang ke kampung nyokap, tapi blon pernah sekali pun gw bener-bener dateng ke dano ini...)

yang jauh2:
1. paris dan desa-desa di perancis (walopun bahasa prancis gw udah rusak total. hiks.)
2. yerusalem
3. petra (sekalian ke yerusalem)
4. cappadocia dan nemrut dagi (sekalian ke yerusalem juga)
5. ngliat aurora borealis (di mana pun itu)

mari, mari... siapa pun yang ngga cepet kesel, ngga doyan ngambek, ngga keterlaluan banci kamera, mau susah, tapi juga siap berkompromi dan mau dengan senang hati motoin gw, gw ajak ikut bertualang bareng gw...

Thursday, August 13, 2009

Bosan, Bosan, Bosan...

Bosan kerja... biasalah, penyakit menahun yang sepertinya harus diterima sebagai inherent riks. Penyakit ini tak terelakkan di pekerjaan apapun, di tempat kerja manapun, bekerja dengan siapapun.

Bosan belajar... biasalah, awalnya menarik tapi lama-lama jadi rutinitas dan kewajiban tak menenangkan. Tidur larut demi harga diri yang dipertaruhkan dalam beberapa puluh menit ujian juga sama membosankannya dengan proses mendengarkan di dalam kelas sambil berusaha tak mengumpat karena bosan tak tertahankan.

Bosan membaca... biasalah, toh hobi ini sudah dikerjakan sejak dua puluh lima tahun lalu. Tanpa henti, tanpa lelah, semua bahan bacaan yang ada sudah habis dilalap dan akhirnya tak ada lagi yang cukup menarik dan cukup menantang yang membuat kedua mata ini bisa lengket ket ket pada halaman-halaman buku.

Bosan jalan-jalan... biasalah, jalan-jalan butuh duit dan butuh cuti, yang dua-duanya sangat sangat terbatas. Jadi sepertinya rekor gila-gilaan tahun lalu dan setengah tahun ini akan berhenti di situ saja.

Bosan makan... biasalah, seumur hidup minimal tiga kali sehari makan. Aktivitas ini benar-benar membosankan dan semoga saja kelak ada teknologi yang bikin orang bisa kenyang tanpa perlu makan.

Bosan bermimpi... biasalah, terlalu banyak mimpi malah bisa terus-terusan bikin patah hati. Mau juga hidup seperti orang-orang, mengalir tanpa mimpi, tanpa cita-cita, tanpa bintang yang ingin dicapai tapi agak khawatir lama-lama bisa gantung diri di pohon toge karena kebosanan yang lebih tak tertahankan lagi.

Bosan menulis... biasalah, menulis kan perlu pake berpikir dan berpikir sama sekali bukan alternatif yang menarik dari semua aktivitas yang sama membosankannya.

Bosan, bosan, bosan.... Huh.

Thursday, July 16, 2009

Kalo Gue jadi Menbudpar...

kalo gue jadi menbudpar, gue bakal:
1. menasionalisasi resort2 asing biar negri gw ga kebagian buntung mulu dari semua profit resort2 itu
2. menghapus private beaches biar penduduk sekitar pantai2 tercantik itu tetep bisa nikmatin pantai tercantik mereka yg katanya milik rakyat tp ga bisa dinikmati kalo ga sanggup bayar
3. ajuin undang2 spy transaksi hotel ato resort ato apa pun yg berhubungan dgn jalan2 di negri gue sendiri kudu dibayar dalam rupiah; masa gue kudu bayar dalam sgd ato eur ato usd di negri gue buat nikmatin kecantikan negri gue yg mustinya adalah milik gue? COME ON!
4. benerin infrastruktur wisata, termasuk akses jalan, moda transportasi, bandara, pelabuhan, terminal, hotel, dsb dsb biar orang indonesia lebih suka dateng ke dano toba ato krakatau ato bunaken ato kelimutu ato derawan drpd ke singapore ato malaysia ato thai (yg ga ada apa2nya itu, hehe)
5. benerin official website-nya depbudpar (www.my-indonesia.info) biar lebih INFORMATIF dan BERGUNA (pls deh, masa buat cari tau gmn caranya ke TANA TORAJA dari makassar aja ga bisa?)
6. PROMOSI ttg wisata yg ga melulu bali ato bunaken ato lembah baliem; BANYAK yg bisa dijual, banyak yg bisa dipamerin... Indonesia itu benar2 cantik, kawan!
7. kasi benefit buat penduduk sekitar tempat wisata yg bikin mereka ngerti bahwa pelestarian lingkungan sekitar mereka emang berhubungan langsung ama periuk nasi mereka
8. dsb dsb... tar kalo gue pas jalan lagi, pasti kepikiran deh omelan2 laen, hehehehe....

tapi kan gue jauh bgt dari menbudpar yah... jadi, gw akan lakukan yg gue bisa: ayo teman2, mari kita jalan2 keliling indonesia!!!! (overland flores yuuuuuks... hiks hiks)

Wednesday, July 01, 2009

Hold on, Hold on...

People say that time will heal
But you know, they just don't feel what you feel
Times are hard but God is so good
He's never failed you, and He said He never would

He sees your tears
He fights your fears

Hold on, help is on the way
He said he'd never leave you or forsake you
Stay strong
Help is on the way
He'd said he'd help you
Just reach out and take his hand

He knows your heart, He lifts your head
He's always close enough to hear every word you said
When you're weak, He said He's so much more
His arm is long enough to reach you where you are

He sees your tears
He fights your fears

*berusaha menyemangati diri sendiri: ayo, ayo, semangat!!! help is indeed on the way!!!*

Saturday, June 13, 2009

Inilah Batasnya

Sudah lama aku tidak menulis. Gabungan dari pekerjaan di meja dan laptopku bertumpuk, masalah di kepalaku yang menimbun, dan penyakit malas yang tak kunjung sembuh. Lagi pula, setiap kali aku ingin menulis, lebih sering kesedihan dan rasa rindu yang menggunung yang ingin kutulis. Menuliskan semua itu malah membuat semua rasa tadi tambah bergulung-gulung, dan bukan mereda. Belakangan, sulit sekali rasanya memandang hidup dengan sudut pandang yang lain, yang berbeda dengan apa yang dapat dilihat oleh mata jasmani. Entah mengapa, hati dan kepalaku menjadi tumpul dan hari-hari berlalu begitu saja, persis seperti kehidupan paling rendah yang bisa aku bayangkan.

Berjuta kali aku menggerutu, "it's already beyond my limits.." Dan entah berapa kali aku menggugat Yang Maha Tinggi. Yah, menggugat berapa besar Dia mengerti batas kekuatanku. Baru sekarang, akhirnya, aku bisa melihat lebih jelas. Dia tahu persis batas kemampuanku, bahkan lebih dari diriku sendiri (yeah, ini kalimat klise, tapi biar aku coba gambarkan lebih lanjut).

Hasil analisisku sendiri tentang hari-hariku belakangan ini dan caraku menghadapinya adalah bahwa selama ini semuanya memang sudah mendekat batas kekuatanku. Mendekati, tapi belum melewati. Jadi, dengan lebih keras berusaha, dengan lebih banyak bersabar, dan dengan lebih tekun berdoa, seharusnya aku bisa melewati semuanya dengan baik. Seharusnya. Tapi, seperti yang selalu terjadi, aku bukannya berusaha lebih keras, aku malah lebih sering naik pitam, dan aku malah mogok berdoa. Kesimpulannya, aku gagal dalam ujian hidupku kali ini, dan sepertinya harus mengulang sekali lagi (setelah begitu banyak kali mengulang pelajaran hidup yang itu-itu juga).

Yang membuat aku terpana adalah, dengan semua kegagalanku memahami dan bereaksi pada kejadian-kejadian yang mendekati batas kekuatanku tadi, Pribadi Yang Baik itu tak pernah, dan aku ulangi, tak pernah putus asa dan tak pernah menyerah melimpahiku dengan kebaikan. Ketika aku hampir menyerah (dan nyatalah bahwa itulah batas kekuatanku), selalu terjadi sesuatu yang membuatku bangkit dan berjuang lagi. Selalu terjadi sesuatu yang membuatku teringat pada betapa besar kasih sayang yang telah dan akan selalu dicurahkan bagiku. Selalu terjadi sesuatu yang membuatku merasa bahwa diriku bukan terhukum, tapi pewaris, walaupun mungkin aku hanyalah pewaris pada strata terendah. Selalu terjadi sesuat yang membuatku bertanya, "Mengapa selalu datang kebaikan pada diriku?"

Seorang sahabat terkasih pernah memberitahuku betapa dia mempelajari apa itu kasih karunia dari kehidupanku. Dia belajar bahwa kasih Allah dicurahkan bukan karena kehebatan, kepintaran, atau kebaikan seseorang tapi hanya karena kasih-Nya terlalu besar untuk tidak dicurahkan pada anak-anak-Nya. Memang seperti itulah. Aku tak pernah dan tak yakin akan bisa jadi orang hebat, orang pintar, apalagi orang baik. Tapi aku tak pernah berhenti menerima kasih yang tak terbatas itu.

Dear Lord, thanks for loving me THAT much
--setelah kejadian beruntun yang bikin mengharu biru---

Sunday, May 03, 2009

Cerita dari Negri Tirai Bambu (1)

  • ribet no. 1: taksi pesanan ngga dateng pada jam yang ditentukan; mau long week end, katanya, jadi susah
  • ribet no. 2: satu anggota tim ketinggalan paspor  di rumah, jadi musti pulang dulu
  • ribet no. 3: gue yang udah ganti kostum dan matiin laptop, siap jalan, tiba-tiba disuruh nge-print ulang form persetujuan sesuatu... nyalain laptop lagi deh
  • ribet no. 4: H2C ama jalan yang macet: jakarta oh jakarta... dulu ketinggalan pesawat ke makassar aja gue rasa mau nyumpah-nyumpah, ketinggalan pesawat ke KL bisa bikin naik pitam kan yaa
  • ribet no. 5: dua anggota tim yang beda kantor sama gue masih belum jalan juga, salah satunya masih meeting, katanya
  • ribet no. 6: dua anggota tim lainnya (yang sama dengan ribet no. 5) masih belum jalan juga karena ngga ada taksi
  • ribet no. 7: nunggu yang dua orang lagi ato check ini duluan ato makan malem dulu?
  • ribet no. 8: gue dan teman-teman nunggu di Hoka-hoka Bento tapi yang kita tunggu ternyata udah masuk boarding room
  • ribet no. 9: udah tinggal bentar lagi tapi gue masi ngotot mau abisin sup gue
  • ribet no. 10: di mana sih counter bebas fiskalnya?
  • ribet no. 11: UDAH MAU BOARDING!!! baru sekali ini gue lari-lari kaya kesetanan di bandara
  • ribet no. 12: barang-barang Shinta dibongkar petugas imigrasi
  • ribet no. 13: akhirnya segala keribetan berakhir juga...
Perjalanan kali ini dimulai dengan sejuta keribetan. Eh, di daftar gue cuma 13 yah, ngga sampe sejuta, tapi kalau mau dibikin detil, gue yakin deh bakal sampe sejuta. Rasanya deg-degan terus gara-gara waktu yang mepet-mepet. Dan ternyata, kelak di sepanjang perjalanan kami ini, bakal ada seratus juta keribetan lain, seratus juta deg-degan lain. Mari, mari, gue perkenalkan anggota tim kami kali ini.

Peserta pertama: ini biangnya perjalanan kali ini, yang punya obsesi ngga jelas sama cina dan panda, yang selalu merasa kalau kungfu panda sebenarnya adalah film tentang dirinya, yang paling ngga pernah bete selama perjalanan ini, yang selalu jadi pasangan banci kamera gue, yang ternyata porsi makannya kalah jauh sama gue.

Peserta kedua: ini dulunya jadi partner gw ke nepal dan bintan, yang kadang-kadang masa bodo ama keribetan kalo nyasar, yang kadang-kadang ketelitiannya bikin kami selamat dari nyasar lebih jauh lagi, yang ngga doyan dipoto dan sayangnya ngga doyan motoin orang lain juga, yang sigap dengan lonely planetnya kalo gue udah mau menyerah, yang selalu tepat waktu dan bikin gue dan peserta pertama yang kalo gerak emang selalu pake gaya kura-kura selamat dari keterlambatan tapi jadi harus buru-buru melulu.

Peserta ketiga: ini dulunya pernah jadi anggota kuartet gue ke bintan, yang kameranya kesirem air minum di lcct dan jadi ngga bisa motoin kami, yang ngga pernah minta dipoto tapi kalo udah ditembak kamera bakal langsung pasang gaya, yang ngga banyak ngomong tapi hebat banget kalo disuruh nebak tulisan mandarin, yang takut naik sepeda tapi maju terus pantang mundur.

Peserta keempat: yang mukanya cina abis tapi ngga terima kalo dibilang cina, yang selalu disangka cina asli dan disangka travel guide rombongan kami yang kulitnya coklat semua, yang ternyata mantan putri celana jeans, yang punya obsesi sama KFC dan toilet, yang herannya kok ngga bawa kamera jadi ngga bisa diharepin motoin gue.

Peserta kelima: gue sendiri, yang dengan diktator menyusun itinerary sesuka hati gue, nge-booking hotel semau gue, nentuin moda transportasi seenak jidat gue; gue yang memang ngga punya bakat jadi travel organizer tapi semata-mata nyari temen jalan yang mau ikutin mau gue, hehehe...

Sebelum gue lanjutin cerita perjalanan yang bikin kulit dan dompet gue kering kerontang ini, gue mau ucapin terima kasih buat empat anggota tim lain yang udah gue hina-hina di atas. Terima kasih banyak udah ngelaluin semua keribetan itu bareng gue, pasti ngga bakal sama kalo elo semua ngga ikut...

Monday, April 27, 2009

Kan Kubuktikan!

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu, buatku melambung
Di sisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu, jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu, jatuh, dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu!

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

-Yang Terbaik Bagimu (ADA Band)-

Monday, April 20, 2009

Tuhan, Biarkan Bapak Mendengarnya Sekali Ini

Bapak sayang,
Seperti yang selalu kuduga, aku benci hari-hariku. Aku benci bangun pagi, mandi, lalu berangkat bekerja. Aku benci duduk di depan komputerku dan berusaha mengerjakan hal-hal yang harus kukerjakan. Aku benci selalu merasa enggan mengerjakan semua yang harus kukerjakan itu. Aku benci membuang satu hari lagi dalam hidupku. Aku benci mengenangmu, Bapakku tersayang, dan mengingat betapa kau ingin aku bekerja di tempatku bekerja sekarang.

Bapak sayang,
Seperti yang selalu kutahu, aku sanggup melakukan apapun untukmu. Aku sanggup memberikan segalanya untukmu. Aku sanggup terbang ke langit untuk menggapai bintang impianmu. Aku juga tahu, kau selalu tahu bahwa aku sanggup dan selalu mau melakukan semuanya untukmu.

Bapak sayang,
Tidak seperti yang pernah kupikirkan, kehilangan engkau sama seperti kehilangan hidupku sendiri. Aku kehilangan mimpi-mimpiku. Aku kehilangan doa-doa yang menopang langkahku. Aku kehilangan kelembutan yang mengajariku berbaik hati pada orang yang jahat padaku. Aku kehilangan keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik. Aku kehilangan cahaya yang menuntunku pada hari esok.

Bapak sayang,
Aku amat sangat merindukanmu. Duniaku runtuh dan aku amat sangat membutuhkanmu.

Thursday, April 02, 2009

Sama Saja

Rasanya sama saja. Dulu, aku melihat sendiri mereka berurai air mata menangisi kehilangan yang begitu besar. Dulu, aku mendengar sendiri keluh kesah dan ketakutan mereka, karena hari depan yang tiba-tiba menjadi tak menentu. Dulu, hatiku bergetar karena merasakan kepedihan dan ketakutan mereka.

Sekarang, aku tak melihat sendiri, tak mendengar sendiri. Tapi tetap saja rasanya sama.

Doaku untuk mereka yang telah terpaksa kehilangan keluarga, saudara, tempat tinggal, harta benda, dan pekerjaan. Doaku untuk mereka yang (mungkin) akan segera terpaksa kehilangan pekerjaan.

Aku percaya Tuhan masih sayang negeriku, masih sayang bangsaku. Amin.

Monday, March 23, 2009

Terpesona

Aku tetap tak mengerti, mengapa tembok batu dan hujan badai masih saja membuatku kelabu. Telah kulihat tembok batu dibangun menjadi istanaku. Telah kusaksikan hujan badai mengusir awan hitam di langit indahku. Mengapa hatiku selalu saja memerih perih?

Aku tetap tak mengerti, mengapa berjuta pesona tak jua cukup untukku. Hari ini terpesona, hari lain merengut. Hari ini bersuka, hari lain merundung duka. Ah, tak juga selesai pelajaranku tentang hidup, tak juga berakhir pergelutanku memahami jalan-jalan yang harus kutempuh.

Hari ini aku mengharu biru, terpesona, takjub, dan kehilangan kata-kata. Hari ini aku memandang keagungan yang mengasihiku begitu rupa. Hari ini aku menjadi saksi bahwa semua kebaikan yang kuterima bukanlah ganjaran atas kebaikanku. Hari ini aku kembali mengerti apa artinya seorang hina yang diangkat menjadi pewaris bangsa-bangsa. Hari ini aku kembali teringat satu kalimat yang kudengar belasan tahun lalu: be still and know that I am God.

Tuesday, March 17, 2009

deja vu

orang ramai berkumpul, memperbincangkan seorang lelaki yang kini telah berpindah alam. sanak keluarga berkumpul, air mata tertumpah di pipi orang-orang yang paling merasa dekat, di pipi orang-orang yang mengasihi si lelaki yang kini tak lagi bisa dipeluk. beberapa orang berkerumun, mengelilingi tubuh kaku seorang lelaki, mengangkat tubuhnya, lalu menutupinya. semua terasa begitu familiar, terasa seperti sesuatu yang selalu ada di sini.

walaupun begitu, tetap saja ada begitu banyak perbedaan. terlalu banyak perbedaan.

setidaknya, lelaki ini sempat menua; bapakku tak pernah menjalani hidup sebagai lelaki tua. lelaki ini sempat sakit-sakitan, dirawat oleh orang-orang yang mencintainya; bapakku tak pernah memberi siapa pun kesempatan untuk menunjukkan kerelaan hati merawatnya. lelaki ini sempat memeluk cucu-cucunya; bapakku bahkan tak pernah melihat satu pun keturunannya berpasangan dalam sebuah pemberkatan nikah.

deja vu? mungkin hanya sedikit.

Monday, March 02, 2009

Resah

ya, resah...
ketika ingin bertanya mengapa hatinya galau
namun tak yakin apakah aku boleh bertanya

ya, resah...
ketika dia tiba-tiba sering berdiam
namun aku tak yakin apakah dia yang memang berdiam atau aku yang berlebihan

ya, resah...
ketika dia begitu mengharapkan keajaiban
namun aku tak lagi pernah merasakan keajaiban
dan sedikit berharap keajaiban itu tak perlu terjadi padanya

namun lebih resah lagi...
ketika aku ingin menawarkan doaku untuknya
namun tiba-tiba tersadar kalau kini doaku berpamrih

sangat, sangat resah...
ketika aku mengerti mengapa kini menjadi begitu sulit
untuk penuh dengan belas kasihan
untuk diliputi dengan ketulusan

terlalu resah...
ketika aku menerima hasratku
untuk bisa mengasihinya, mengasihi mereka,
dengan kasih yang dulu pernah kumengerti....

---pengen balik ke kasih yang mula-mula...---

Sunday, March 01, 2009

Bapakku Sering Bertanya padaku:

"Sudah datang, Inang?"
ketika aku baru sampai di rumah kami di Bandung, sambil memberikan tangannya yang lalu kuraih dan kucium.

"Sudah makan, Inang?"
setiap kali dia mau makan, atau aku baru tiba di rumah.

"Bapak dan Mama baru selesai berdoa. Ita sudah berdoa pagi ini?"
pada pagi-pagi tak terduga, ketika aku masih terlelap dalam mimpi paling melenakan, dan handphoneku tiba-tiba memberitakan suaranya.

"Lagi di mana, Inang? Sudah ke gereja hari ini?"
pada hari-hari minggu tak terduga, selalu bertepatan dengan saat aku membolos kebaktian minggu.

"Gimana di kantor, Inang? Masih suka cemberut sama bapak yang kemaren?"
ketika aku berdiam-diam saja tentang hidupku di kantor.

"Gimana di sekolah, Inang? Guru-gurunya ngajarnya gimana?"
setiap kali aku pulang ke Bandung, dulu sekali ketika aku masih bersekolah di Bogor.

"Minggu ini pulang, Inang?"
selalu ketika aku tak ingin pulang ke Bandung.

"Kalau teman-teman Bapak nanya, anak Bapak jadi apa di situ, Bapak bilangnya apa?"
setiap kali aku berusaha menerangkan pekerjaanku yang sepertinya penting itu.

"Besok kita mau kebaktian jam berapa?"
setiap Sabtu malam, kalau aku sedang ada di Bandung.

Pagi ini aku begitu ingin ditanyai salah satu dari pertanyaan-pertanyaan itu, walaupun jawabanku mungkin akan sama saja... Aku kangen, Bapak...

Thursday, February 26, 2009

Facebook

  1. jumlah temen gue di fesbuk sekarang ada 301 orang
  2. dari jumlah itu, sebagian besar adalah temen kantor sekarang, temen kantor lama, temen jaman kuliah, temen smu
  3. sebagian kecil adalah temen smp (cuma 1 orang sih, yg temen smp doang, ada beberapa yg temen smp dan sekampus juga)
  4. sebagian kecil lagi temen les prancis gue jaman dulu
  5. sebagian kecil juga temen sd (gw sih ragu mereka inget kalo gue temen sd mereka, hehehe)
  6. sebagian kecil lagi orang-orang yang gue ngga inget siapa tapi mutual friends-nya banyak banget ama gue (sebagian besar udah gue delete dengan sukses)
  7. ada 2 orang auditee gue (dua-duanya gue delete dengan gagah berani, tapi yang satunya gue add lagi--dan sampe sekarang ngga approve gue, hiks)
  8. ada juga orang yang ga ada hubungannya dengan gue, tapi gue jadiin friend karena temen gue suruh gue jadiin friend (emang ga penting banget)
  9. eh iya, ada satu orang mantan guru matematika gue di jaman smu
  10. eh iya juga, ada beberapa temen jalan-jalan gue
  11. tapi sebenernya buat apa sih ini fesbuk?
  12. bosen juga gue lama-lama...
  13. apa gue delete aja yaaa
  14. ini posting paling ga penting di blog ini

Monday, February 16, 2009

My Browsing History

Iseng-iseng, gw ngliat-liat browsing history gue. Jadi, kalo gue ketik satu huruf di browser gue, kan muncul tuh nama website yang paling sering gue buka. Naaah... inilah dia:

a: airasia.com
b: blogger.com
c: charl1e.blogspot.com *hahaha, ternyata belakangan ini gue sering buka blognya charlie:D*
d: detikfinance.com *pasti bukan gue yang buka nih, temen kantor gue kali ;p*
e: elong.net *huahahaha... gue kan mantau terus harga tiket guilin-xi'an*
f: facebook.com *pecandu fb nih lama2 gue*
g: gmail.com
h: hostelworld.com
i: ga ada
j: jetstar.com
k: klikbca.com
l: lonelyplanet.com
m: mail.yahoo.com
n: ndangse.blogspot.com *narsis juga gue yah, kqkqkq*
o: owa.bi.go.id
p: picasaweb.google.com/bintang2kecil/ *gara2 laptop gue blon dibalikin ade gue, kalo kangen poto2 malah buka ini...*
q: ga ada
r: redlanternhouse.com *tar di beijing, gue nginep di siniiiiii*
s: stafaband.info *pasti ade gue nih, donlod2 mp3*
t: tigerairways.com
u: ga ada
v: valuair.com
w: ga ada
x: xe.com/ucc
y: youtube.com *eh, masa sih gue sering buka youtube? padahal tadi gue bilang sama heru kalo gue ga doyan buka youtube, hihi*
z: zuji.com

ckckckck... hari gini masih mikirin jalan-jalan aja nih gue... mustinya, yang gue buka-buka itu yang berhubungan dengan:
1. ujian cfa
2. gre general test
3. toefl
4. gre subject test: math
5. finmath at stanford
6. mfe at haas
7. mfe at chicago
8. how to write a winning essay
9. mfe at tepper (ini juga deh)
10. banking
11. market update (ga cuma harga tiket doang yang gue pantau dong ya... hehehehe....)

Wednesday, February 11, 2009

Tentang Manusia

Inilah kisah pergelutanku dengan manusia,
Tak ada habisnya, tak ada ujungnya,
dan juga tak sampai-sampai pada pengertian.

Ataukah aku yang terlalu ingin mengerti?

Satu saat bersikap manis,
lalu tanpa badai tiba-tiba terdiam sejuta bahasa.
Setidaknya, aku tak merasakan badainya.
Ataukah aku yang tidak peka pada berbagai badai dalam hidup?

Satu saat kuanggap teman,
lalu entah ditiup angin dari arah mana, tiba-tiba seperti orang asing dari antah berantah.
Setidaknya, tak kurasakan ada angin bertiup.
Ataukah angin tak lagi meniupkan dirinya melewatiku?

Inilah kisah pergelutanku dengan manusia,
melelahkan, mengesalkan.
Dan aku tak punya kata untuk menjelaskan apa pun.

*kangen...*

Wednesday, February 04, 2009

sampai di sini...

...sampai batas akhir nafasku dan sampai lenyap detak jantungku,
kan kuserahkan seluruh hidupku dan beri yang terbaik bagimu.
walau duniaku hancur dan runtuh, kutahu engkau kan menolongku
karena janjimu dan kesetiaanmu kupegang sampai di akhir hidupku...